Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit infeksi yang masih banyak ditemukan di Indonesia. Meski dapat disembuhkan, proses pengobatannya membutuhkan kedisiplinan dan komitmen yang tinggi, terutama bagi pasien yang mengalami TBC MDR (Multi-Drug Resistant Tuberculosis) atau TBC yang kebal terhadap obat lini pertama.

Hal inilah yang dialami oleh Mbak Meti, seorang penyintas TBC MDR yang membagikan kisah perjuangannya dalam podcast Ruang Sehat bersama Etawanesia Official.

Berawal dari Batuk yang Mengeluarkan Darah

Mbak Meti mengaku tidak pernah menyangka dirinya mengidap TBC. Hingga suatu hari, ia mengalami batuk yang mengeluarkan darah dalam jumlah cukup banyak. Setelah menjalani pemeriksaan medis, ia didiagnosis menderita TBC.

Namun setelah pemeriksaan lebih lanjut, diketahui bahwa ia mengalami TBC MDR sehingga memerlukan pengobatan yang lebih panjang dan intensif dibandingkan TBC biasa.

Menjalani Pengobatan Selama 18 Bulan

Perjalanan pengobatan yang dijalani Mbak Meti tidaklah mudah. Selama kurang lebih 18 bulan, ia harus mengonsumsi sekitar 20 butir obat setiap hari dan menjalani terapi sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Selain itu, ia juga merasakan berbagai efek samping seperti tubuh mudah lemas, pusing, penurunan berat badan, hingga gangguan aktivitas sehari-hari. Meski demikian, ia tetap berusaha disiplin menjalani pengobatan hingga selesai.

Menurut Mbak Meti, dukungan keluarga menjadi salah satu alasan yang membuatnya tetap semangat menjalani proses pengobatan yang panjang tersebut.

Fokus Memulihkan Kondisi Tubuh Setelah Pengobatan

Setelah menyelesaikan pengobatan, Mbak Meti mulai fokus menjaga kondisi tubuhnya agar kembali bugar. Ia berusaha menerapkan pola hidup sehat dengan menjaga pola makan, istirahat yang cukup, serta tetap aktif beraktivitas sesuai kemampuan.

Sebagai bagian dari rutinitas hariannya, Mbak Meti juga rutin mengonsumsi Etawanesia, susu kambing etawa yang dipadukan dengan ekstrak daun kelor.

Menurut pengalamannya, konsumsi Etawanesia membantu mendukung stamina tubuhnya setelah menjalani pengobatan yang panjang. Ia juga merasa tubuh tidak mudah lelah setelah beraktivitas dan kualitas tidurnya menjadi lebih baik.

Etawanesia mengandung susu kambing etawa yang merupakan sumber protein, kalsium, dan mineral, serta ekstrak daun kelor yang dikenal kaya akan berbagai nutrisi dan antioksidan. Kombinasi ini dapat menjadi pelengkap pola hidup sehat untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian.

TBC Bisa Disembuhkan dengan Disiplin

Melalui kisahnya, Mbak Meti ingin menyampaikan bahwa TBC bukanlah penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Kunci utamanya adalah disiplin menjalani pengobatan, mengikuti anjuran tenaga kesehatan, serta menjaga kondisi tubuh selama dan setelah masa pengobatan.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan batuk berkepanjangan, terutama jika disertai dahak yang tidak kunjung membaik atau terdapat bercak darah. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu penanganan yang lebih cepat dan tepat.

Disclaimer: Etawanesia bukan obat untuk TBC dan tidak dimaksudkan untuk menggantikan pengobatan medis. Pengobatan TBC harus tetap dilakukan sesuai anjuran dokter dan fasilitas kesehatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *